Beranda Gaul Afi Nihaya Faradisa Anak Muda Anti Mainstream

Afi Nihaya Faradisa Anak Muda Anti Mainstream

BERBAGI
Afi Nihaya Faradisa

Mudation.com – Salut dengan Afi Nihaya Faradisa yang bisa terkenal hanya dengan status facebook. Saya ingat tulisan pertamanya yang viral sekaligus menjadi jembatan peteman kami yaitu tentang Dunia Pendidikan.

Waktu itu saya melihat cukup banyak komentar yang mempertanyakan masalah kebenaran tulisan tersebut yang murni karya anak SMA. Berikut status facebook Afi Nihaya Faradisa yang pertama kali viral dibuat tanggal 01 Juli 2016 dan mendapat banyak tanggapan dari para netizen:

Saya adalah murid yang baru saja naik ke kelas 12 (kelas 3 SMA).
Tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormat pada para “pendidik” sekaligus terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kasus wali murid mempolisikan guru yang ramai belakangan ini, ijinkan saya menyampaikan beberapa pandangan saya tentang ‘rasa’ dari pendidikan Indonesia.
.
Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan kekerasan. Ini sekolah umum yang membentuk mental siswa dengan pelajaran moral dan pendidikan, bukan sekolah militer yang membetuk mental dengan pendekatan fisik apapun bentuknya; entah pukulan, tamparan, bahkan cubitan sekalipun (apalagi jika sampai meninggalkan bekas).
Lihatlah produk pendidikan tradisional yang sangat kaku dan otoriter; membentuk mindset siswa bahwa segala sesuatu jalan keluar terbaiknya adalah KEKERASAN.
Punya anak nakal? Dikerasi.
Tim bola kesayangan kalah? Bentrok sana sini.
.
Lihatlah hasil didikan-didikan Bapak dan Ibu, sebagian dari para guru. Siswa masuk tepat waktu bukan karena kesadaran, tapi karena takut HUKUMAN. Siswa berusaha mencapai nilai KKM bukan karena kesadaran, namun karena ancaman hukuman lari di lapangan atau takut menanggung malu karena daftar nilai terpampang.
Bukankah begitu kenyataannya?
Lihat saja jika para siswa melakukan pelanggaran terhadap aturan. Mereka merasa baik-baik saja, tidak ada perasaan bersalah selama mereka tahu mereka LUPUT DARI PENGAWASAN, selama mereka tahu mereka bebas dari beban hukuman.
Contoh saja, siswa berani mencontek ASAL TIDAK KETAHUAN.
Ujian nasional yang telah negara selenggarakan selama bertahun-tahun terbukti GAGAL, tidak pernah menjadi parameter kemampuan siswa yang sebenarnya karena tidak dipungkiri BANYAK KECURANGAN SANA-SINI.
Karakter patuh-karena-takut-hukuman-bukan-karena-kesadaran ini akan terbawa oleh siswa sampai mereka dewasa. Contohnya,
Orang-orang dengan santainya melanggar peraturan lalu lintas ASAL TIDAK KETAHUAN.
Politisi produk pendidikan Indonesia masih hobi korupsi ASAL TIDAK KETAHUAN.
See?
Jadi, hukuman fisik produk pendidikan sebagian guru-guru Indonesia (tidak semua, karena ada yang tetap mendidik dengan dedikasi tinggi) , tidaklah terbukti EFEKTIF menumbuhkan kesadaran pada benak siswa dan malah sebaliknya.
.
Pak, Bu,
Apakah para guru hanya dibayar untuk duduk di meja guru lalu pulang setelah menjelaskan pelajaran? Pekerjaan ‘pendidik’ seharusnya tidak seenteng itu. Para pendidik dituntut untuk kreatif menemukan cara BAGAIMANA caranya membentuk karakter siswa TANPA perlu hukuman fisik. Bisakah? Sangat bisa!
Saya tahu sekali bahwa Anda menghukum fisik siswa agar mereka patuh dan berdisiplin baik. Tapi, saya rasa hukuman fisik semacam itu malah menunjukkan bahwa sebagian guru Indonesia kurang kreativitas dalam meningkatkan karakter siswa selain pakai jalan tengah yang disebut HUKUMAN FISIK. Contohlah pendidikan negara-negara lain yang tidak mengandalkan hukuman fisik dalam membentuk karakter siswanya, tapi faktanya kualitas murid hasil didikan di sana JAUH LEBIH BAIK dibandingkan Indonesia yang notabene masih mengagung-agungkan hukuman fisik sebagai DALIH pembentukan mental dan karakter.
.
Dear our beloved teachers,
Apakah bapak dan ibu mau tahu apa metode MENDIDIK SISWA TERBAIK DENGAN OUTPUT/HASIL YANG JUGA TELAH TERBUKTI BAIK DAN BERHASIL?
Oke. Sekarang, berkacalah pada fakta dan realitas yang terpampang jelas di depan mata.
Guru, sebagaimana halnya dengan siswa, sama-sama adalah manusia.
Kita semua -tanpa terkecuali- sama-sama berpotensi untuk melakukan kesalahan.
So, kalau begitu kesalahan bukan hanya datang dari peserta didik, bukan? Namun juga datang dari pendidik itu sendiri.
Terimalah kritik saran dengan berlapang dada sebagaimana seperti yang selama ini juga bapak ibu ajarkan pada kami.
Jadi, apa metode MENDIDIK SISWA TERBAIK DENGAN OUTPUT/HASIL YANG JUGA TELAH TERBUKTI BAIK DAN BERHASIL -tentunya tanpa mengandalkan hukuman fisik-?
Hanya satu: TELADAN.
Perbaiki kualitas bapak ibu. Berikanlah kami contoh seperti apa ORANG YANG BERKARAKTER SESUNGGUHNYA.
Para pengajar tidak bisa menaruh slogan di sekolah yang menuliskan berbagai kenakalan remaja seperti merokok dan sebagainya, jika mereka sendiri yang memenuhi udara sekolah dengan asap rokok itu.
Para pengajar tidak bisa menyuruh kami untuk super disiplin jika ada satu saja dari mereka yang selalu datang telat, absen mengajar dengan berbagai alasan, atau ogah-ogahan mengulangi penjelasan jika ada bab yang belum kami pahami.
Tidak ada cara mendidik terbaik yang mengalahkan “menjadi teladan yang baik” pula.
An action speaks louder than thousand words.
Guru adalah ujung tombak kurikulum. Mau kurikulumnya dirombak terus sekian rupa, kalau tidak ada peningkatan yang berarti dari gurunya, lihatlah, semua itu terbukti sia-sia.
K13 katanya menjunjung tinggi moral, namun fakta di lapangan tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Masih begini-begini saja, kan?
.
Semoga kualitas pendidikan di Indonesia mengalami peningkatan seiring tahun. Semoga menghasilkan lulusan-lulusan yang bukan hanya patuh di sekolah, namun juga berkarakter baik di rumah.
Bravo pengajar dan siswa Indonesia!
– Afi.

Tapi hingga pada ahirnya waktu yang menjawab atas kebenaran yang dulu mereka pertanyakan. Keaktifannya membuat status panjang di facebook dengan tulisan yang menurut saya cukup berkualitas dan selalu memiliki nilai dedikasi membuktikan bahwa seorang Afi Nihaya Faradisa memang layak untuk dikenal lebih banyak orang.

Mau Dibawa Kemana Anak Muda Indonesia!!!

Mungkin kita sudah tau istilah “jadilah sesuatu yang berbeda jika ingin dikenal” dan itulah yang dilakukan Afi Nihaya Faradisa. Jika sebagian besar anak-anak seusianya masih sibuk dengan berbagai macam jenis dan bentuk ke-alay-an dalam membuat status facebook, dia malah rutin menulis banyak hal yang lebih bermanfaat untuk dibaca banyak orang di setiap update status facebook.

Salah satu pelajaran penting yang saya “maling” dari Afi Nihaya Faradisa adalah bagaimana memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain tanpa ada tendensi dalam bentuk apapun. Hal ini akan saya terapkan dalam mengembangkan www.mudation.com yaitu sebuah situs yang didedikasikan untuk anak muda Indonesia.

Semoga ini juga menjadi inspirasi buat anak muda Indonesia untuk mengikuti jejak seorang Afi Nihaya Faradisa. Sehingga dengan bertambah dan berkembangnya anak mudah yang cerdas akan mampu membawa Indonesia lebih baik dimasa yang akan datang.

Yuk bangkit Generasi Muda Indonesia, mari kita mulai hal yang bermanfaat dari sekarang. Tidak perlu nunggu umur Tua untuk menjadi Dewasa, karena Dewasa itu pilihan. Go goo gooo

Saat ini penggunaan media sosial saat ini sudah menjadi rutinitas bahkan bisa dikatakan sudah menjadi kebutuhan sehari-hari terutama anak muda. Sehingga segala bentuk informasi apabila sudah masuk media sosial akan sangat mudah berkembang menjadi opini publik. Tidak peduli akan kebenaran informasi tersebut, apabila “mengganggu” emosional seseorang maka hal tersebut akan mendapatkan banyak respon dari para netizen mulai dari anak muda hingga dewasa.

Bagi saya ini sebuah kemajuan karena secara tidak lansung mengarahkan netizen khususnya anak mudak untuk berpikir kritis. Dengan kemajuan ini setidaknya anak muda Indonesia memiliki ruang untuk “berbicara” didepan publik dalam menanggapi berbagai opini khususnya yang beredar di Media Sosial. Selain itu tidak sedikit anak muda yang memanfaatkan ruang yang sangat luas ini untuk menyampaikan aspirasi dan opini tanpa harus diseleksi media mainstream seperti dulu.

Tapi permasalahan yang muncul dari subuah kemajuan tersebut juga tidak bisa kita pungkiri. Kondisi ini banyak dimanfaatkan orang yang tidak bertanggung jawab untuk mengembang biakan BERITA HOAX dan OPINI SESAT. Tapi lucunya kita juga banyak yang doyan mengkonsumsi “racun” tersebut, bahkan tidak sedikit netizen yang rela saling mancaci dan menghujat karena perbedaan pendapat dalam menanggapi BERITA HOAX dan OPINI SESAT tersebut.

Ini adalah salah satu bentuk pembodohan terhadap kaum intelektual dan melek teknologi yang dilakukan oleh segelintir orang tidak bertanggung jawab untuk mensukseskan kepentingan mereka. Ada yang memanfaatkan untuk mencari keuntungan, kepentingan politik, dan lain sebagainya. Para pelaku kejahatan ini menggunakan berbagai macam modus yang dikemas sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Tapi konsepnya sama yaitu dengan menggelitik EMOSI karena informasi dengan memancing emosi pasti akan mendapat banyak tanggapan dari netizen baik itu yang positif atau negatif. Dengan begitu informasi tersebut akan dengan sangat cepat tersebar luas atau menjadi viral di media sosial. Ini yang mereka inginkan!!!

Saya sangat menyayangkan kondisi ini karena akan merusak pola pikir pengguna sosial media yang notabennya digemari generasi muda. Sangat disayangkan apabila calon penerus bangsa yang diharapkan mampu membawa Indonesia lebih baik kedepannya justru diracuni dengan BERITA HOAX dan OPINI SESAT yang menghalangi mereka untuk kreatif dan inovatif serta berpikir cerdas dalam beropini dan menyampaikan aspirasi melalui media sosial.

Karena melihat kondisi ini saya dan dibantu beberapa teman pada bulan Agustus 2016 mendidikan www.mudation.com sebuah media yang dibuat khusus untuk anak muda. Selain menjadi media baca, disana juga kami menyediakan ruang bagi yang mengembangkan bakat menulis untuk dipublikasikan. Harapannya media tersebut mampu mengalihkan pandangan anak muda dari BERITA HOAX dan OPINI SESAT sehingga lebih melihat kepada hal-hal yang positif.

Meskipun belum banyak, tapi setidaknya sudah ada anak muda yang rutin menerbitkan tulisan mereka disana sesuai denga bidangnya masing-masing. Saya menyadari tidak mudah untuk merealisasikan harapan ini dengan cepat mengingat kami tidak menyajikan informasi yang kontraversi yang banyak digemari netizen saat ini. Tapi kami akan terus berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat khususnya untuk anak muda Indonesia.

Untuk mengahiri tulisan yang masih jauh dari sempurna seperti tulisannya Afi Nihaya Faradisa, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Apakah kita tidak ingin berhenti menanggapi dan menyebarluaskan BERITA HOAX dan OPINI SESAT???

NB:
Kami menerima kritik dan saran termasuk mengajukan penghapusan konten di www.mudation.com jika itu dianggap tidak layak untuk dibaca melalui email hallo@mudation.com

Tinggalkan Balasan